21 Mei 2013

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci. Dialah Allah, Rabb yang telah menyempurnakan ad-dinul Islam dengan shalat sebagai tiangnya.
Shalat merupakan tiang agama. Ini mengindikasikan bahwa kedudukan ibadah shalat sangat penting dalam Islam, yaitu sebagai asas atau sendi penopang bangunan Islam, sehingga bila telah runtuh tiangnya, akan rusaklah bangunannya.
Dalam perdagangan, ibadah shalat ibarat kapital atau modal bagi setiap muslim, karena semua amal ibadah kita tidak akan diterima, kecuali setelah diterimanya shalat. Sebagaimana sabda Nabi saw., bahwasanya shalat adalah amalan yang paling pertama dihisab; jika baik shalat seseorang, maka akan baik pula amalan lainnya dan sebaliknya. Demikian juga dalam perdagangan, jika tidak ada modal, kita tidak akan memperoleh keuntungan.
Dari Abi Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia (muslim) yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat wajib. Apabila ia telah menyempurnakannya, selesailah persoalannya. Akan tetapi apabila tidak sempurna shalatnya (yang wajib), dikatakan (kepada malaikat) : ‘Lihat dulu, apakah ia pernah mengerjakan shalat sunnah?’ Jika ia pernah mendirikan shalat sunnah, kekurangan dalam shalat wajib disempurnakan dengan shalat sunnahnya, kemudian amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu.” (HR Imam Yang Lima, Nailul Authar :374)
Risalah Allah yang dibawa oleh Rasulullah saw., cara ibadah shalatlah yang paling banyak Rusul terangkan, baik teori maupun prakteknya, sehingga jika ada sahabat yang salah dalam praktek cara ibadah shalat, maka tidak segan-segan Nabi saw. langsung menegur mereka dan menyuruh mereka untuk mengulangi praktek ibadah shalat tersebut.sehingga Rasul menegaskan cara ibadah shalat yang akan diterima Allah  hanyalah teledannya.
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian tahu (menyaksikan) aku mendirikan shalat” (HR. Ahmad dan Bukhari I : 155, Fiqhus Sunnah I : 115)
Agar umatnya betul-betul mampu mencontoh praktek cara shalat Rasul, maka Rasul menggembirakan umatnya yang mendirikan shalat dengan berbagai kebahagiaan ahirat.
Telah berkata ‘Ubadah : “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : ‘Shalat yang diwajibkan Allah swt atas hamba-Nya itu ada lima. Barangsiapa mengerjakannya tanpa menyia-nyiakan sedikitpun darinya karena hendak memperingan kewajibannya, ia mendapatkan jaminan dari Allah, (yaitu) bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya, ia tidak mendapat jaminan dari Allah. Bila Allah menghendaki, ia akan menyiksanya dan bila Allah menghendaki, ia akan mengampuninya’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i, Nailul Authar I : 373, Abu Dawud 1420)
Jaminan dan ancaman Allah tersebut mudah-mudahan dapat memberikan rangsangan bagi kaum muslimin untuk lebih hati-hati dalam melaksanakan ibadah shalat, baik ibadah shalat yang wajib maupun ibadah shalat sunnah (mandub)
Ibadah shalat adalah penghubung antara hamba dengan Rabbnya. Nabi saw. bersabda :
“Sesungguhnya jika seseorang dari kamu shalat, ia bermunajat kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari)
Allah juga berfirman dalam sebuah Hadtis Qudsi :
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta, maka apabila hamba berucap : ‘Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamin’, Allah ta’ala menjawab : ‘Hamba-Ku memuji-Ku. Apabila ia mengucapkan : ‘Ar-rahmaanir-rahiim’, Allah ta’ala menjawab :’Hamba-Ku menyanjung-Ku. Apabila ia mengucapkan : ‘Maaliki yaumiddin’, Allah menjawab : ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Ketika ia mengucap : ‘Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in’, Allah menjawab : ‘Inilah antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Apabila hamba itu mengucapkan : ‘Ihdinash shiraathal mustaqim, shiraathal  ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi’alaihim wa ladhdhaalliin’, Allah menjawab : ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta’.” (HR. Muslim)
Ibadah shalat adalah cahaya dalam hati orang mukmin dan pada hari mereka dikumpulkan di padang Mahsyar. Nabi saw. bersabda : “Shalat itu cahaya.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda :
“Siapa yang menjaga shalat, maka shalat itu menjadi cahaya dan keterangan (bukti) serta penyelamat baginya pada hari akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)
Shalat merupakan kesenangan serta penghibur diri bagi orang beriman (mukmin). Nabi saw. bersabda :
“Aku menjadikan shalat sebagai penghibur diri.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Ibadah shalat adalah penghapus kesalahan (dosa) serta penutup kejelekan. Nabi saw. bersabda :
“Tahukah kamu sekalian seandainya di depan pintu salah seorang di antara kalian ada sebuah sungai di mana ia mandi lima kali setiap harinya; apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?” Mereka (para sahabat) menjawab : “Tidak ada kotoran yang tinggal sedikitpun.” Nabi saw. bersabda : “Maka demikianlah umpama (orang yang melakukan) shalat lima waktu. Allah menghapuskan semua kesalahan (dosa) dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda : “Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at merupakan kafarat (penebus) dosa yang dilakukan antara waktu tersebut, selama tidak dilakukan dosa besar.” (HR. Muslim)
Kepada umatnya yang suka meninggalkan shalat, Rasulullah saw. bersabda :
“Diantara seorang (yang beriman) dan kufur adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Buraidah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Perjanjian yang ada diantara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, dia kufur.” (HR. Ahmad)
Karena risalah ini merupakan penjelasan mengenai petunjuk dan cara Nabi saw. dalam mendirikan ibadah shalat, maka sudah barang tentu tidak terikat oleh salah satu madzhab dari yang empat karena yang diketengahkan adalah apa yang dikerjakan Rasulullah saw., tanpa mengurangi penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya.
Disamping mengetengahkan praktek cara ibadah shalat dari takbir sampai salam, di sini juga disajikan dalil-dalil yang menjelaskan cara bersuci, baik cara wudhu, cara tayammum, maupun cara mandi janabat, serta ditambah pula  wirid-wirid yang dibaca setelah selesai shalat (adz-dzikru ba’da shalat) dan tata cara shalat sunnah (selain yang wajib).
Mudah-mudahan kehadirin tulisan ini bermanfaat untuk izuul Islam wal muslimin.


Sumber : Habib Hassan bin Ahmad Al-Mahdaly (Dakta 107.0 FM)


0 komentar:

Posting Komentar

Situs ini menerapkan “Dofollow Site Comment System”
Beri komentar sebanyak-banyaknya yang tentunya akan membawa manfaat pula bagi perkembangan blog/situs Anda. Namun komentar Anda harus dengan syarat :

1. Tidak mengandung Spam, SARA, Pornografi;
2. Komentar harus ada kaitannya dengan materi yang dibahas
dalam posting;
3. Tidak berisi link aktif di dalam badan komentar.

Selamat berkomentar dan semoga bermanfaat bagi perkembangan blog/situs Anda.

Terima kasih.