21 Mei 2013

IBADAH SHALAT JUM'AT


Ibadah shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain untuk orang-orang yang beriman saja. Hanya golongan yang tidak diwajibkan, yaitu perempuan, anak-anak, hamba sahaya dan orang yang sakit. Allah berfirman :
“Hari orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat Jum’at, hendaklah kamu bersegera ke dzikrullah (mengingat Allah) dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. 62:9)
Penjelasan ayat :
1. Kalimat “Yaa ayyuhal ladzina aamanuu idzaa nuudia lish shalaati” ini menunjukkan yang diseru shalat berjama’ah di masjid utamanya laki-laki.
2. Kalimat “idzaa nuudia lish shalaati” ini sebagai dalil bahwa anak-anak kecil tidak terpanggil karena belum taklif.
3. Kalimat “fash’au” (maka pergilah) ini sebagai dalil bahwa yang berjum’at itu harus orang yang sehat wal’afiat, sehingga oran gsakit tidak terpanggil.
4. Kalimat “dzikrullah” (mengingat Allah) maksudnya shalat Jum’at itu sendiri dan wajib mendengarkan khutbah.
5. Kalimat “wadzarul bai” maksudnya semua aktivitas keduniaan harus kita tinggalkan, kecuali oleh hamba sahaya, perempuan, anak-anak kecil dan orang sakit, tidak wajib berjum’at.
Tentang ibadah shalat Jum’at, Rasulullah saw. menjelaskan kembali dalam haditsnya : “Jum’at itu suatu kewajiban yang penting atas tiap-tiap orang Islam dengan berjama’ah, melainkan empat, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak kecil dan orang sakit.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)
A.  Dalil kewajiban sebelum shalat Jum’at
Rasulullah saw. bersabda :
“Jika seorang dari kamu hendak shalat Jum’at, hendaklah dia mandi.” (Hadits Riwayat Muslim)
“Mandi pada hari Jum’at itu wajib atas tiap-tiap orang baligh dan hendaklah ia membersihkan gigi dan menggunakan harum-haruman kalau ia punya.” (Hadits Riwayat Bukhari)
“Mandilah pada hari Jum’at dan cucilah kepala kamu walaupun kamu tidak junub dan pakailah harum-haruman.” (Hadits Riwayat Bukhari)
B. Tata cara mandi Jum’at
      Tata cara mandi Jum’at yang diperintahkan Rasul seperti cara mandi janabat. Dalilnya sebagai berikut :
      Dari Abi Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at secara mandi janabat, kemudian ia pergi shalat Jum’at, sama dengan berqurban seekor unta.” (Hadits Riwayat Bukhari)
      “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at dan ia pakai harum-haruman jika ia punya dan ia pakai pakaian berbaiknya, kemudian ia keluar dengan merendah diri hingga datang ke masjid, lalu shalat kalau ia suka dan dia tidak mengganggu orang, kemudian ia diam, apabila datang imamnya, hingga ia shalat, niscaya yang demikian itu penebus dosanya diatara dua Jum’at itu.” (Hadits Riwayat Ahmad)
      Dari beberapa hadits tersebut di atas, nyatalah bahwa bersuci dengan cara mandi hukumnya wajib dan dianjurkan dengan cara memakai parfum kalau ada serta memakai pakaian yang terbaik.
C.  Waktu Jum’at
      Telah berkata Anas : “Adalah Rasulullah saw. shalat Jum’at pada waktu condong matahari.” (Hadits Riwayat Bukhari)
D.  Ma’mum/jama’ah dilarang berbicara
      “Apabila engkau berkata kepada sahabatmu : ‘Diam!’ Pada hari Jum’at, padahal imam sedang berkhutbah, sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia.” (Hadits Riwayat Al-Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)
      Dari Ibnu ‘Abbas r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa berkata-kata pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka ia seperti keledai memikul kitab-kitab dan orang yang berkata kepadanya : ‘Diam!’ Tidak ada baginya Jum’at.” (Hadits Riwayat Ahmad)
E.  Adzan Jum’at
      Menurut riwayat yang shahih bahwa cara melaksanakan adzan pada hari Jum’at hanya sekali saja sebagaimana dijelaskan oleh Sa’ib bin Yazid dalam hadits berikut :
      Sa’ib bin Yazid berkata : “Adzan pada hari Jum’at itu terjadi pada zaman Nabi saw., Abu Bakar dan ‘Umar, dimulai saat imam duduk di atas mimbar.” (Hadits Riwayat Bukhari)
F.  Isi Khutbah
      Telah berkata Jabir : “Adalah Rasulullah saw. berkhutbah dengan berdiri dan ia duduk antara dua khutbah dan ia baca beberapa ayat dan ia ingatkan manusia.” (Hadits Riwayat Ahmad dan Muslim)
      Telah berkata Jabir : “Adalah Rasulullah saw. tidak memanjangkan nasihat pada hari Jum’at. Khutbahnya itu hanya beberapa kalimat yang mudah.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)
      Telah berkata Ibnu Aufa : “Biasanya Rasulullah saw…. dan beliau memanjangkan shalat dan memendekkan khutbah.” (Hadits Riwayat Nasa’i)
G.  Sifat-sifat Khatib
      Telah berkata Jabir : “Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah, merah dua matanya dan keras suaranya dan sangat berangnya (kelihatan seperti orang marah) hingga seolah-olah ia seorang pengancam laskar yang berkata “ ‘Ingat, musuh akan menyerbu kamu pada waktu pagi, pada waktu petang’.” (Hadits Riwayat Muslim)
      Dari Jabir bin Samurah, bahasanya Nabi saw. berkhutbah dengan berdiri, kemudian beliau duduk, kemudian berdiri, lalu berkhutbah dengan berdiri, maka barang siapa memberitahukan kepadamu bahwa Nabi berkhutbah sambil duduk, sungguh ia telah berdusta. (Hadits Riwayat Muslim)
H.  Jumlah jama’ah shalat Jum’at
      Bahwa Nabi saw. berdiri berkhutbah pada hari Jum’at. Tiba-tiba datang kafilah membawa barang dagangan dari Syam, maka orang-orang itu berlari ke situ memburu yang tak perlu hingga yang tinggal di masjid hanya 12 orang laki-laki. Lalu itu turunlah ayat ini yang (diturunkan) hari Jum’at : “Dan apabila mereka melihat barang-barang dagangan atau tontonan, mereka berlari ke situ dan mereka meninggalkan engkau berdiri sedang khutbah.” (Hadits Riwayat Muslim)
      Jumlah jama’ah Jum’at tidak mesti 40 orang, karena menurut riwayat tersebut Nabi saw. ibadah shalat Jum’at dengan jama’ah 12 orang dan bukan keharusan paling sedikit 12 orang.
      Adapun hadits yang menerangkan bahwa cara ibadah shalat Jum’at itu mesti 40 orang, sebagai berikut :
      “Pada setiap 40 dan di atasnya ada shalat Jum’at, ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri.” (Hadits Riwayat Daruquthni)
      Hadits ini ditolak oleh semua ahli hadits, bahkan Imam Ahmad mengatakan dusta atau palsu. Yang penting ibadah shalat Jum’at dilakukan dengan cara berjama’ah. Yang disebut jama’ah dalam ibadah shalat bila ada dua orang atau lebih. Semakin banyak yang berjama’ah, tentu semakin baik sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
      Rasulullah saw. bersabda : “Shalat seseorang ditemani satu orang lebih baik daripada shalat sendiri; shalat yang ditemani dua orang lebih baik dari pada shalat yang ditemani satu orang; dan mana yang lebih banyak itulah yang lebih disukai oleh Allah Ta’ala.” (Hadits Riwayat Ahmad, bu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
I.   Ancaman meninggalkan shalat Jum’at tanpa udzur
      “Sesungguhnya aku ingin menyuruh mewakilkan kepada seseorang untuk menjadi imam (pada shalat Jum’at), kemudian aku akan membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jum’at.” (Hadits Riwayat Muslim)
      “Hendaklah berhenti kaum-kaum dari meninggalkan shalat Jum’at atau Allah akan menutup hati mereka, kemudian Allah jadikan mereka orang yang lalai.” (Hadits Riwayat Muslim dan Ibnu Majah)
      “Barang siapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak 3 kali karena sengaja atau menganggap remeh, Allah akan menutup hatinya.” (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
      Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah saw. bersabda : “Allah akan menutup hati orang-orang yang tidak menghadiri shalat Jum’at, sedang mereka mendengarkan suara adzan, kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (Hadits Riwayat Thabrani)
      Dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Zararah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa mendengar adzan pada hari Jum’at, tetapi tidak mendatanginya, kemudian mendengarnya, tapi tidak mendatanginya, kemudian mendengarnya, tapi tidak mendatanginya, maka Allah akan menutup hatinya dan menjadikan hatinya (sebagaimana) hati orang munafik.” (Hadits Riwayat Baihaqi)
J.  Shalat Sunnah Intizhaar
      Intizhaar artinya menunggu. Maksudnya melaksanakan ibadah shalat semampu kita sebelum imam/khatib dalam ibadah shalat Jum’at naik mimbar. Rasulullah bersabda : “Barang siapa mandi pada hari Jum’at, lalu ia datang ke tempat shalat, kemudian ia shalat semampunya, kemudian diam hingga selesai imam berkhutbah, kemudian ia shalat Jum’at bersama imam, niscaya diampuni dosanya di antara dua Jum’at dan ditambah tiga hari.” (Hadits Riwayat Muslim)
K.  Shalat sunnah ba’diyah Jum’at
      Sesudah shalat Jum’at dianjurkan shalat sunnah dua raka’at atau empat raka’at. Rasulullah saw. bersabda :
      Dari Ibnu ‘Umar r.a., ia berkata : “Adalah Rasulullah saw. shalat dua raka’at setelah Jum’at di rumahnya.” (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)
      Dari Abi Hurairah r.a. : “Rasulullah saw. bersabda : ‘Jika salah seorang di antara kamu shalat Jum’at, hendaklah shalat empat raka’at sesudahnya (shalat sunnah ba’diyah).” (Hadits Riwayat Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)

  
Sumber : Habib Hassan bin Ahmad Al-Mahdaly (Radio Dakta : 107.0 FM)

0 komentar:

Posting Komentar

Situs ini menerapkan “Dofollow Site Comment System”
Beri komentar sebanyak-banyaknya yang tentunya akan membawa manfaat pula bagi perkembangan blog/situs Anda. Namun komentar Anda harus dengan syarat :

1. Tidak mengandung Spam, SARA, Pornografi;
2. Komentar harus ada kaitannya dengan materi yang dibahas
dalam posting;
3. Tidak berisi link aktif di dalam badan komentar.

Selamat berkomentar dan semoga bermanfaat bagi perkembangan blog/situs Anda.

Terima kasih.