21 Mei 2013

BERSUCI / THAHARAH


Yang dimaksud dengan bersuci (thaharah) adalah menghilangkan hadats dan kotoran. Adapun cara bersuci dari hadats adalah dengan wudhu atau mandi atau dengan pengganti dari keduanya, yaitu tayammum. Adapun bersuci dari kotoran adalah menghilangkan najis yang ada pada pakaian, tempat, badan dan lain-lain. Bersuci itu merupakan bagian dari iman dan keududukannya setengah dari keseluruhan iman. Hal ini berdasarkan hadits sebagai berikut :
Dari Abi Malik Al-Anshari, bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Bersuci adalah sebagian dari iman.” HR. Muslim.
Pada riwayat Ahmad disebutkan : “Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
Kedua riwayat tersebut maksudnya sama. Bersuci berarti bersih (nadlafah), suci (nazahah) dan terbebas (khulus) dari kotoran (danas) seperti tersebut dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (QS. Al-A’raf (7) : 28)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah (2) : 222)
Allah swt. berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah : 6)
Dari Abu Hurairah r.a., ia menyatakan : Rasulullah saw. bersabda :
“Tidaklah diterima shalat seseorang dari kamu jika berhadats sehingga ia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaih, Fathul Bary I : 206, Muslim : 225)
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda :
“Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci dan tidak pula sedekah karena terpaksa (benci).” (HR. Muslim I : 160 dan lainnya)
Dari Ibnu ‘Abbas, ia menyatakan : Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya aku diperintah untuk berwudhu jika aku hendak shalat.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud : 3760 dan Tirmidzi di dalam Al-Ath’amah : 1848 dan ia (Tirmidzi) berkata hasan shahih dan dikeluarkan Nasa’i I : 73 dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam shahih Al-Jami’ : 2333)
Dari Abu Said r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Kuncinya shalat adalah suci dan haramnya adalah takbir (takbiratul ihram) serta halalnya adalah salam.” (HR. Abu Dawud : 60, Tirmidzi : 3, Ibnu Majah : 275 dan yang lainnya dan Syaikh AL-Albani menshahihkannya di dalam Shahih Al-Jami’ : 5761)
Mendahulukan anggota wudhu bagian kanan.
Aisyah r.a. berkata : “Ternyata Rasulullah saw. suka mendahulukan bagian kanan selama beliau mampu  dalam bersuci, memakai sandal, membersihkan rambut dan dalam semua urusan.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad), dengan lafazh mutaqarabah

1. CARA BERWUDHU
1.1. Membaca basmallah 
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Dari Abu Hurairah :
“Tidak sh shalat bagi orang yang tidak berwudhu dan tidak (sempurna) wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Ahmad dari Nailul Authar I : 165, Abu Dawud : 101. Ibnu Majah : 399)
1.2. Mencuci Kedua Tangan sampai Pergelangan
Caranya didahului dengan tangan kanan sebanyak tiga kali.
Dari Humran, ia melihat ‘Utsman bin ‘Affan berwudhu :
“Lalu dituangkannya air kepada kedua belah tangannya dan dibasuhnya tiga kali.” (HR. Bukhari I : 48, Muslim I : 115, 118)
Jika seseorang berwudhu dari wadah terbuka, sepatutnya dia mencuci tanggannya sebelum memasukkan tangannya ke dalam wadah air.
Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda : “Apabila salah seorang diantara kamu sekalian bangun tidur, janganlah menceburkan tangannya ke dalam wadah (itu) sebelum dia mencucunya tiga kali karena dia tidak tahu dimana tangannya ketika tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
1.3. Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung
Selanjutnya berkumur dengan cara menciduk sebagian air dengan menggunakan tangan kanan untuk kemudian dihisap hidung dan disemburkan kembali.
“Kemudian dimasukkannya tangan kanan ke dalam air (untuk mengambil air), lalu ia berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidungnya serta disemburkan kembali.” 9HR. Bukhari I : 48)
Berkumur dan menghirup air ke hidung caranya boleh satu kali, dua kali atau tiga kali.
Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi saw., beliau bersabda : “Isaplah (oleh hidung) dua kali atau tiga kali.” (HR. Abu Dawud : 141, Ibnu Majah : 408)
Dari Laqith bin Shabrah, sesungguhnya ia berkata : “Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku tentang berwudhu.” Beliau bersabda : “Sempurnakanlah wudhu, silanglah antara jari jemari dan masukkan air ke lubang hidung dengan agak dalam, kecuali kamu berpuasa.” (HR. Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi)
Membersihkan gigi
“Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak pada setiap saat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik)
Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda :
“Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak pada setiap berwudhu.” (HR. Malik, Syafi’i, Baihaqi dan Hakim) Hakim telah menshahihkannya.
Dari ‘Aisyah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda : “Bersiwak dapat menyucikan mulut dan disenangi oleh Tuhan.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi dan Darimi)
1.4. Membersihakan Muka dan Janggut
Cara mencuci muka yaitu ambillah seciduk air dengan kedua tapak tangan, kemudian cuci muka sampai rata tiga kali.
“Sesudah itu (menghirup air), dibasuhnya muka beliau tiga kali.” (HR. Bukhari I : 48)
Sedangkan cara membersihkan janggut dilakukan setelah mencuci muka tiga kali yaitu dimulai dari bagian bawah sampai ke atas.
Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. apabila berwudhu, beliau mengambil seciduk air dengan tapak tangannya, kemudian beliau memasukkan ke rahang bawah, lalu beliau membersihkannya dan bersabda : “Demikianlah Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Agung menyuruh aku.” (HR. Abu Dawud, Baihaqi dan Hakim)
1.5. Mencuci Tangan sampai ke Sikut
Dilakukan dengan cara mengambil air dengan tapak tangan, kemudian cucu kedua tangan sampai siku dengan rata tiga kali dan boleh melebih batas.
Dari Abu Hurairah : “…. Selanjutnya, ia mencuci tangan yang kanan hingga bahu tangan tercuci, lalu mencuci tangan kiri hingga bahu tangan tercuci ….” (HR. Muslim : 122)
1.6. Sapu Kepala
Dilakukan dengan cara mengciduk air dengan kedua tangan, (lalu buang), sapukan ke kepala dari depan, tarik ke belakang, kemudian kembali ke depan dan sapulah kedua telinga sebelah dalam dengan telunjuk dan sebelah luar dengan jempol (satu kali).
Dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata : “Bahwasanya Nabi saw. mengusap kepalanya dengan tangan, maka Nabi menarik keuda tangannya ke belakang dan mengembalikan lagi. Beliau memulai dengan bagian depan kepalanya, lalu menarik kedua tangannya sampai tengkuknya, kemudian mengembalikannya lagi pada tempat semula.” (HR. Al-Jama’ah Al-Muntaqa I : 95)
Saya (Ishaq bin ‘Isa) bertanya kepada Imam Malik mengenai seorang laki-laki yang mengusap kepala dalam berwudhu : “Apakah cukup dengan mengusap sebagiannya?” Imam Malik menjawab : “Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Yahya, dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata : ‘Rasulullah saw. mengusap dalam wudhu mulai dari ubun-ubunnya sampai tengkuknya, lalu Rasulullah mengembalikan kedua tangannya ke ubun-ubunnya, maka ini berarti Nabi mengusap kepala seluruhnya’.” (Fathu Al-Bari : 1 : 251)
Telah mengabarkan kepada kami, Malik, dari ‘Amir bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya bahwa ia berkata : “Saya bertanya kepada ‘Abdullah bin Zaid Al-Anshari : ‘Apakah kamu bisa memperlihatkan kepadaku bagaimana cara Rasulullah saw. berwudhu?’ ‘Abdullah bin Zaid berkata : ‘Ya..’, ‘kemudian ia mengusap kepalanya dengan kedua tangannya dan menarik kedua tangannya ke belakang dan mengembalikan lagi. Ia memulai dengan bagian depan kepalanya, lalu menarik kedua tangannya sampai dengan tengkuknya, lalu ia mengembalikannya ke tempat di mana ia memulai, kemudian ia mencuci kedua kakinya’.” (Al-Maraghi I : 23)
Syafi’i berkata : “Pendapat yang terpilih adalah hendaklah seseorang mengambil air dengan kedua tangannya, lalu ia mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke belakang, lalu menariknya kembali ke bagian depan. Ia memulai dari bagian depan kepalanya, kemudian ia menariknya sampai ke tengkuk, lalu mengembalikannya lagi sehingga sampai pada tempat di mana ia memulai. Demikianlah cara Nabi saw. mengusap kepala.” (Al-Um I : 23)
Ibnu Al-Qayyim berkata : “….. dan tidak sah bahwa Nabi membatasi mengusap sebagian kepalanya. Akan tetapi jika Nabi mengusap ubun-ubunnya, beliau menyempurnakan sampai dengan serbannya dan terkadang Nabi mengusap kepalanya dan terkadang mengusap serban dan ubun-ubunnya dengan serbannya.” (Zaadu Al-Ma’ad 1 : 4)
Pengusapan kepala dan telinga hanya sekali sebagaimana diterangkan hadits berikut :
Dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata : “Saya melihat ‘Ali berwudhu, maka ia mencuci muka dan kedua tangannya tiga kali dan mengusap kepalanya satu kali, kemudian ‘Ali berkata : ‘Demikianlah wudhu Rasulullah saw.’.” (HR. Abu Dawud I : 26)
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia melihat Rasulullah saw. berwudhu, lalu ia menyebutkan dalam hadits tersebut semuanya tiga kali – tiga kali dan beliau mengusap kepalanya serta telinganya satu kali usapan. (HR. Ahmad dan Abu Dawud; Nailul Authar I : 188)
1.7. Mencuci Kaki sampai ke Mata Kaki
Cara mencuci kaki ini boleh juga dilakukan sampai ke betis sebanyak tiga kali.
“… lalu mencuci kaki yang kanan hingga betisnya tercuci.” (HR. Muslim I : 122, Nailul Authar I : 189)
“Kemudian dibasuhnya kaki kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian yang kiri juga demikian.” (HR. Muttafaq’alaih)
Abi Hurairah menambahkan : “Pernah juga Nabi membasuh anggota wudhu satu kali-satu kali dan dua kali-dua kali, kecuali mengusap kepala, satu kali saja.”
Telah berkata Ibnu ‘Abbas : “Nabi saw pernah berwudhu sekali, sekali (saja).” (HR. Bukhari)
Telah berkata ‘Abdullah bin Zaid : “Sesungguhnya Nabi saw. berwudhu dua kali-dua kali.” (HR. Bukhari)
Dari ‘Ali : “Sesungguhnya Nabi saw. berwudhu tiga kali-tiga kali.” (HR. Tirmidzi)
Jika memakai sepatu, cukup diusap bagian atas sepatunya saja.
“Saya melihat Rasulullah saw. menyapu atas serbannya dan atas kasutnya (sepatunya).” (Nailul Authar I : 204, Bukhari I : 58-59)
Pada saat pencucian kaki sampai mata kaki dan pencucian tangan sampai pergelangan, disunnahkan pula menggosok celah-celah jarinya.
Dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : “Apabila kamu wudhu, gosoklah celah-celah jari kedua tangan dan kedua kakimu.” (HR. Ibnu Majah : 429, At-Tirmidzi : 448)
Do’a Setelah Wudhu
Dari ‘Umar bin Khatab r.a., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : ‘Tidaklah seorang diantaramu berwudhu, lalu ia sempurnakan wudhunya, kemudian ia ucapkan :
وَرَسُولُهُ عَبْدُهُ مُحَمَّدًا أَنَّ وَأَشْهَدُ لَهُ شَرِيكَ لاَ وَحْدَهُ اللَّهُ إِلاَّ إِلَهَ لاَ أَنْ أَشْهَدُ
Asyhadu al laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh. (Aku bersaksi sesungguhnya tidak ada tuhan melainkan Allah Yang Esa; tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya), kecuali dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan. Ia dapat (masuk) ke pintu mana saja yang ia kehendaki.” (Muslim, Nailul Authar I : 204).
Catatan : Hadts-hadats yang disucikan dengan berwudhu adalah buang air besar atau kecil, keluar angin (kentut), dan keluar madzi.
2. Hikman dan Fadhilah Wudhu
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Maukah kalian aku tunjukkan pada sesuatu yang Allah hapuskan kesalahan-kesalahan dan Dia naikkan beberapa derajat dengannya?” Mereka (para sahabat) para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : “Yaitu menyempurnakan wudhu dalam keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan (marah) dan memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu shalat sesudah shalat. Itulah pengikat.” (Msulim I : 151 dan yang lainnya Muhtashar Shahih Muslim 133)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Apabila seorang hamba muslim berwudhu, (ketika) ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa pandangan yang dilakukan matanya dari wajahnya bersama air atau bersama tetes air yang terakhir. Ketika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah setiap dosa yang dikerjakan dari kedua tangannya bersama air atau tetes air yang terakhir. Ketika ia mencuci kedua kakinya, keluarlah setiap dosa yang dilangkahkan kakinya bersama air atau tetes air terakhir, sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (Muslim I : 148 dan yang lainnya Muhtashar Shahih Muslim 121)
Dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw. sampai di pekuburan, kemudian beliau berkata : “Semoga keselamatan tercurahkan atas kamu sekalian penghuni tempat kaum beriman dan kami insya Allah dalam waktu dekat akan menyusul kamu. Aku ingin sekali kalau sekiranya kita (dapat) mengetahui ikhwan kita.” Mereka (para sahabat) bertanya. “Bukankah kami ikhwan Baginda, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda : “Kamu sekalian adalah sahabat-sahabatku dan ikhwan kita adalah mereka yang datang kemudian.” Para sahabat bertanya : “Bagaimana Baginda mengenal seseorang yang belum ada dari umat Baginda, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda : “Tahukah kamu seandainya seseorang mempunyai kuda yang belang putih kening dan kakinya, di antara  dua punggungnya yang hitam kelam; bukankah dia akan mengenali kudanya?” Para sahabat menjawab : “Ya (tentu), wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya mereka akan datang kepada-Ku dalam keadaan belang putih kening dan kakinya karena wudhu dan aku telah telah mendahului mereka di sebuah danau. Ingatlah, sungguh benar-benar banyak orang akan terhalau dari danauku sebagaimana terhalaunya seekor unta yang tersesat. Aku menyeru mereka : ‘Mengapakah kalian tidak kemari?’ Maka dikatakan : ‘Sesungguhnya mereka telah mengganti (mengubah wudhu) sepeninggalmu.’ Maka aku katakan : ‘Binasa; binasa…’.” (Muslim I : 150, Muhtashar Shahih Muslim : 129)
Dari Abi Umamah r.a., ia menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Apabila seseorang muslim berwudhu, keluarlah dosa-dosanya dari pendengarannya dan penglihatannya dan dari tangan serta kedua kakinya. Jika ia duduk, ia duduk dalam keadaan terampuni.” (Hakim V : 252 hadits hasan dan di dalam kitab Shahih Al-Jami : 461)
Dari Abu Malik Al-Asy’ari r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Kebersihan adalah sebagian dari iman, alhamdu lillaah memenuhi timbangan, subhaanallaah dan alhamdu lillaah memenuhi (ruang) antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti (keterangan) dan sabar itu bersinar, Al’Qur’an merupakah hujjah bagi kamu atau hujjah terhadap kamu. Setiap orang pergi berpagi-pagi menjajakan dirinya, maka ia akan terbebaskan atau dibinasakan.” (Muslim 1 : 140, Muhtashar Shahih Muslim : 120 dan selainnya)
Dari ‘Utsman r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang berwudhu, kemudian ia membaikkan wudhunya, keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim III : 133 dan yang lainnya)
Dari ‘Utsman r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang berwudhu seperti ini, ia diampuni dari semua dosa yang telah lalu dan shalat serta langkah kakinya ke mesjid sebagai derma.” (HR. Muslim III : 113)
Dari Hamran bin Aban, bahwasanya ‘Utsman minta air wudhu, kemudian beliau menyebutkan sifat wudhu Nabi saw., lalu beliau menyatakan di akhir hadits tersebut Nabi saw. bersabda : “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian ia berdiri shalat dua raka’at tanpa berhadits nafsuh (bercakap-cakap dalam hati atau ngelantur) dalam keduanya, Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari di dalam Fathul Bary XI : 213, Muslim : 226 dan Nasa’i I :68)
3. Perkara yang Membatalkan Wudhu
3.1. Keluar Madzi
Dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata : “Adalah saya seorang yang sangat bermadzi, lalu saya suruh Miqdad bertanya kepada Nabi, lalu ia bertanya, maka sabdanya : ‘Wajib wudhu karenanya’.” (HR. Muslim 1 : 139, Bukhari 1 : 71, Ibnu Majah : 504, Subulus Salam 1 : 65)
3.2. Keluar Angin dari Dubur
Rasulullah saw. bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu mendapatkan (merasakan) sesuatu di perutnya sehingga meragukan apakah mengeluarkan sesuatu darinya ataukah tidak, janganlah ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim, Syarh An-Nabawi IV : 51, ‘Aaridhatul Ahwidzi 1 : 79)
3.3. Keluar ‘Irqun (darah yang keluar di luar batas haidh)
Jika seorang wanita haidh, kemudian batas waktu haidh habis, tetapi masih keluar darah, ia tidak perlu mandi janabat (karena sudah dilaksanakan), hanya berwudhu saja.
Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya darah haidh itu darah hitam yang terkenal, maka apabila ada yang begitu, berhentilah shalat. Akan tetapi, jika ada yang lain, berwudhulah dan shalatlah, karena sesungguhnya itu adalah ‘irqun.” (HR. Abu Dawud : 286, An-Nasa’i : 117-118)
Fatimah binti Abu Hubaisy datang kepada Rasulullah saw., ia berkata : “Sesungguhnya aku seorang perempuan yang beristihadhah, karena itu aku tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan shalat?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya yang demikian itu hanya sekedar ‘irqun.” (HR. Bukhari I : 79, Muslim I : 148)
3.4. Keluar sesuatu dari Dua Lubang
Yang dimaksud di sini adalah buang air besar atau kecil. Jika keluar sesuatu dari qubul atau dubur, kita diwajibkan untuk bersuci kembali.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : ‘Allah tidak menerima shalat seseorang di antara kamu apabila ia berhadats, sehingga ia berwudhu’. Lalu ada seorang laki-laki  Hadhramaut bertanya : ‘Apakah hadats itu, wahai Abu Hurairah?’ Ia menjawab : ‘Angin atau kentu’.” (HR. Muttafaq ‘alaih, Fiqhus Sunnah 1 : 45, Bukhari 1 : 43)
Allah berfirman :
“Jika kamu junub, mandilah atau…, kembali dari tempat buang air, … lalu kamu tidak mendapatkan air, bertayamumlah.” (QS. Al-Maidah:6)
3.5. Tidur Nyenyak
Dari ‘Ali bin Abi Thalib r.a., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Mata itu penyumbat dubur, maka siapa yang tertidur, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud : 203, Ibnu Majah : 477, Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani Shahih Al-Jami’ : 4025)
3.6. Hilang Akal selain Tidur
Yaitu hilangnya akal dengan cara apapun, seperti gila, pingsan dan mabuk. Karena dalam keadaan ini ia tidak tahu telah batal wudhunya ataukah belum batal wudhunya. Inilah kesepakatan pendapat jumhur ulama. (Syarh Muslim IV/74, Al-Mughni 1/64)
3.7. Menyentuh Kemaluan/Dzakar
Dari Thalq bin ‘Ali r.a., ia berkata : Telah berkata seorang laki-laki : “Aku menyentuh dzakarku.” atau ia (rawi) berkata : “Seorang laki-laki menyentuh dzakanya pada waktu shalat. Apakah ia harus berwudhu?” Nabi saw. bersabda : “Tidak. Sesungguhnya dzakar itu bagian dari tubuhmu.” (Diriwayatkan oleh Imam Yang Lima dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan menurut Ibnu Al-Madani hadits ini lebih baik daripada hadits Busrah. Bulughul Al-Maram I : 27)
Dari Busrah bin Shafwan r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : “Siapa yang menyentuh dzakarnya, hendaklah berwudhu.” (Diriwayatkan oleh Yang Lima dan dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Menurut Al-Bukhari, hadits ini adalah hadits yang paling shahih dalam bab ini. (Subulus Salam 1 : 67)
Keterangan : Oleh karena dua hadits itu berlawanan dan tidak memungkinkan diambil jalah tarjih, mengingat keduanya sama-sama kuat, perintah dalam hadits tersebut diartikan sunnah sebagaimana pemahaman Imam Malik. Adapun pendapat Imam Malik, karena kedua hadits itu berlawanan – jadi – wudhu karena menyentuh dzakar itu sunnah, bukan wajib (Subulus Salam I : 68)
4. Tidak Harus Wudhu Setelah Mandi
4.1. Alasan orang yang mengatakan Wajib Wudhu setelah Mandi
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : “Rasulullah telah bersabda : ‘Tidak akan diterima shalat seseorang diantara kamu apabila berhadats hingga ia berwudhu’.” (HR. Muslim I : 114)
Rasululla saw. telah bersabda : “Sesungguhnya amal itu tegantung pada niatnya…” (HR. Bukhari)
Adapunpun wudhu itu bukan mandi dan mandi bukan wudhu.
4.2. Alasan orang mengatakan Tidak Wajib Wudhu Setelah Mandi
Dari Aisyah r.a. “Sesungguhnya Nabi saw. tidak wudhu setelah mandi.” (HR. Tirmidzi I : 179)
Dari Ibnu ‘Umar, sesungguhnya ia mengatakan ketika Nabi saw. ditanya tentang wudhu seseorang setelah mandi, beliau menjawab : “Wudhu mana yang lebih rata daripada mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan, sesungguhnya Nabi telah mengatakan kepada seseorang yang berkata kepadanya : “Sesungguhnya aku suka wudhu setelah mandi”, maka Nabi mengatakan : “Sesungguhnya kau berlebih-lebihan.” (Aunu Al-Mas’ud I : 425)
Dari Aisyah r.a., ia berkata : “Adalah Rasulullah saw. tidak berwudhu lagi setelah mandi junub.” (HR. Ibnu Majah I : 191) Pada sanadnya terdapat rawi bernama Isma’il bin Musa As-Siddi. Dia itu dhaif.
Menurut As-Syafi’I, kalaulah seseorang memulai mandi, dan tidak berwudhu, lalu menyempurnakan mandinya, maka hal itu cukup sebagai wudhu untuk shalat dan bersuci dengan mandi itu lebih sempurna daripada wudhu. (Al-Um I : 36)
Al-Qur’an mengatakan : “Dan jika kamu hendak shalat dalam keadaan junub, mandilah.” Ini berarti cukup dengan mandi, tidak usah wudhu, karena memang tidak ada perintah untuk berwudhu lagi.
Catatan : Tidak semua mandi dapat menggantikan wudhu, kecuali mandi yang sempurna, yang merata dan ada niat dengan mandinya itu untuk melaksanakan shalat.
5. Tayammum
Tayammum adalah bersuci dengan tanah untuk menggantikan bersuci dengan air ketika tidak ada air, baik wudhu maupun mandi atau tidak mampu menggunakan air karena hal-hal sebagai berikut :
5.1. Sakit
Tayamum boleh dilakukan apabila orang sakit tersebut tidak dapat memakai air atau kalau memakai air akan bertambah parah penyakitnya atau terlambat sembuh. Hal ini berdasarkan eksperimen dan pendapat orang yang ahli dalam bidang kesehatan.
5.2. Tidak ada air di perjalanan atau di pemukiman
Berdasarlam firman Allah swt. : “Jika kamu sekalian sakit atau dalam perjalanan atau salah satu diantara kamu sekalian dalam perjalanan atau datang dari kakus atau bersentuhan dengan perempuan, kemudian kamu sekalian tidak menemukan air, bertayamummlah dengan tanah yang baik.” (QS. An-Nisa’ : 43)
5.3. Air sangat dingin dan tidak dapat menghangatkannya, sedangkan apabila dia berwudhu, dapat membahayakannya.
5.4. Apabila hanya ada air untuk minum atau untuk minum binatang yang dilindungi dan tidak ada air untuk berwudhu.
5.5. Apabila dengan berwudhu atau mandi, takut keluar waktu shalat
Seseorang boleh bertayammum bila dengan mandi atau berwudhu, ia akan kehabisan waktu untuk shalat, kemudian shalat tanpa harus mengulang.
“….. dan jika kamu takut sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan (berjima’), kemudian kamu tidak mendapatkan air, bertayamummlah dengan yang bersih. Sapulah muka dan tanganmu dengan tanah tersebut …” (QS. Al-Maidah : 6)
Kata Abu Juhaim : “Nabi saw. datang dari sebelah telaga Jamal dan bertemu dengan seorang laki-laki. laki-laki itu memberi salam kepada Nabi dan Nabi belum menjawabnya sehingga Nabi menghadap sebuah tembok, lalu disapunya mukanya dan dua tangannya, kemudian baru menjawab salam.” (HR. Bukhari I : 87, Nailul Authar I : 266)
Dengan keterangan tersebut, cara bertayammum itu menepukkan kedua belah tangan ke tanah (debu) yang kering atau ke dinding yang mengandung tanah atau debu, kemudian menyapukan kedua telapak tangan itu dengan rata ke muka, dan menyapukan pula ke tangan hingga pergelangan tangan. Bacaannya sama dengan sesudah atau sebelum berwudhu atau mandi janabat.
“… kemudian ia tepukkan dua tangannya ke bumi satu kali, lalu ia sapukan kirinya  atas tangannya dan di belakang dua tapak tangannya dan mukanya.” (HR. Muslim I : 59, Bukhari I : 87)
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka tata cara tayammum adalah sebagai berikut :
a. Menepukkan tangan ke bumi, dinding atau apa saja (yang mengandung debu) atau debu langsung.
b. Menyapukan tapak tangan kanan ke tapak tangan kiri dan atas tapak tangan kiri, kemudian tapak tangan kiri disapukan (telapaknya) ke tangan kanan masing-masing satu kali sapuan. Kemudian,
c. Menyapukannya ke muka satu kali.
Tidak mengusap kedua tangan sampai siku dalam tayammum
Pendapat pertama
a. Dari Ibnu ‘Umar r.a., ia berkata “Rasulullah saw. telah bersabda : ‘Tayammum itu dua tepukkan, satu tepukkan untuk wajah dan satu tepukkan lagi untuk kedua tangan sampai kedua sikunya.” (HR. Daruquthni)
b. Berdasarkan apa yang telah berlaku dalam wudhu mengenai mencuci tangan sampai kedua sikunya, demikian juga dalam tayammum, mengingat ada kaidah yang mutlak, hendaklah dibawa kepadanya yang muqayyad.
Pendapat kedua
a. Hadits Ibnu ‘Umar itu mauquf, sebagaimana dinyatakan dalam kitab Bulughul Al-Maram dan para imam menshahihkan dan menyepakatinya.
Pada sanad tersebut, ada rawi bernama ‘Ali bin Zhabyan yang menurut Al-Hafizh, ia dhaif dan telah dinyatakan kedhaifannya oleh Ibnu Qaththan, Ibnu Ma’in dan yang lainnya.
Menurut Ibnu ‘Abdi Al-Bar, kebanyakan hadits yang marfu’ dari ‘Ammar adalah satu tepukkan dan hadits yang menyatakan dua tepukkan semuanya mudh-tharib/goncang (Nailul Authar : 309)
b. Yang mutlak hendaknya dibawakan kepada yang muqayyad manakala sederajat sebab serta hukumnya. Sedangkan dalam masalah ini tidak demikian, mengingat wudhu day tayammum itu tidak sama, disamping itu juga telah ada alasan hadits shahih yang menyatakan perihal mengusap kedua tangan dalam tayammum itu hanya sampai pergelangan tangan.
c. Dari ‘Ammar bin Yasir r.a., ia berkata : “…. kemudian Nabi menepukkan kedua tangannya ke tanah satu kali tepukkan, kemudian mengusapkan tangan kirinya pada punggung tangan kanan (secara silang), kemudian (mengusap) wajahnya.” (HR. Bukhari – Muslim, tetapi lafadz ada pada Muslim)
Dalam satu riwayat Bukhari dinyatakan : “Kemudian beliau (Nabi saw.) menepukkan kedua tangannya ke tanah, lalu meniup kedua tangannya, kemudian mengusap wajah dan kedua tangannya sampai pergelangan.” (Bulughul Al-Maram : 26)
d. Dengan ini jelaslah bahwa hadits-hadits yang menerangkan dua tepukkan tidak luput dari perbincangan seluruh riwayatnya. Andaikata hadits tersebut shahih, tentunya akan mengamalkannya, mengingat terdapat tambahan. Yang benar kita berpegang pada hadits yang dikukuhkan Shahihain (Bukhari dan Muslim), hadits dari ‘Ammar yang membatasi satu tepukkan saja, hingga ada dalil shahih lainnya yang menyatakan lebih dari ukuran tersebut di atas. (Nailul Authar I : 310)
6. Mandi Junub
Kata al-ghuslu adalah isim masdar. Kata tersebut berasal dari kata ightasala, yaitu meratakan badan dengan air. Al-Ghuslu (mandi) menurut bahasa adalah mengalirkan, sedangkan menurut syara’ adalah menyampaikan air ke seluruh tubuh. Dalilnya adalah firman Allah swt. “ Dan jika kamu sekalian junub, bersucilah.”
Mandi menjadi fardhu karena enam perkara :
6.1. Keluar mani yang tampak pada dzakar dan farji, walaupun pada hukumnya seperti orang yang bermimpi dan melihat yang basah walaupun tidak dengan syahwat. Hal ini didasarkan atas hadits :
Dari Ummu Salamah bahwa Ummi Sulaim berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari yang hak. Apakah perempuan itu wajib mandi jika dia bermimpi?” Beliau bersabda : “Ya, jika perempuan itu melihat air (mani).” Kemudian Ummu Salamah berkata : “Apakah perempuan suka bermimpi?” Beliau bersabda : “Tanganmu berdebu (berlumuran debu, maksudnya umpatan, bukan dosa) dengan apa anaknya menyerupainya?” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)
‘Aisyah r.a., berkata : “Mani adalah cairan yang kuat yang keluar pada saat birahi sampai pada puncaknya, sehingga diwajibkan mandi besar.” (HR. Ibnu Mundzir)
Dari Anas bahwa Ummi Sulaim bertanya kepada Nabi saw. tentang perempuan yang melihat apa yang dilihat oleh laki-laki pada tempat tidurnya. Beliau bersabda : “Barangsiapa di antara kamu sekalian mimpi seperti itu, kemudian keluar mani, hendaklah dia mandi.” Ummu Salamah berkata : “Wahai Rasulullah, apakah itu terjadi?” Beliau bersabda : “Ya, air mani laki-laki kental dan putih, sedangkan air mani perempuan encer dan warnanya kuning. Mana yang lebih dominan di antara keduanya, maka anak itu akan menyerupainya.” (HR. Ahmad, Muslim, Ibnu Majah dan Baihaqi)
6.2. Bertemunya dua khitan, yakni khitan laki-laki dan khitan perempuan. Pengertian iltiqa (bertemu) adalah masuknya penis laki-laki pada bagian perempuan dengan kuat, baik keluar sperma maupun tidak. Hal ini didasarkan hadits ‘Aisyah r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Apabila seseorang duduk pada cabang perempuan yang empat, kemudian khitan menyentuh khitan, ia wajib mandi.” HR. Ahmad dan Muslim)
Yang dimaksud dengan bertemu dua khitan adalah bertemunya kemaluan laki-laki dan perempuan dengan pengertian membenamkan penis ke liang vagina. Pengertian lams atau menyentuh yang dimaksud bukanlah makna sebenarnya dan bukan pula persentuhan yang sesungguhnya, khitan wanita berada pada bagian atas vagina dan tidak disentuh oleh penis pada saat berjima’
Pada Kitab Ad-Dinul Khalish disebutkan, para ulama telah sepakat bahwa seandainya seorang laki-laki meletakkan penisnya di atas vagina tanpa memasukkannya, tidak wajib mandi besar.
Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa kewajiban mandi tidak tergantung pada keluarnya sperma. Akan tetapi, tanpa keluar sperma-pun sudah wajib mandi. Hal ini didasarkan hadits berikut :
Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda : “Apabila seseorang duduk di antara cabang (tangan dan kaki) wanita yang empat, kemudian lelah nafasnya, wajib (baginya) mandi, baik keluar mani maupun tidak.” (HR. Ahmad, Muslim dan Baihaqi)
Mayoritas ulama fiqih berpendapat, sesungguhnya seorang laki-laki seandainya memasukkan dzakarnya pada dubur perempuan, ini adalah haram dengan pasti keduanya wajib mandi, baik laki-laki maupun perempuan.
6.3. Putus darah dan nifas, berdasarkan hadits :
Dari Aisyah, bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy istihadhah (keluar darah penyakit), lalu dia bertanya kepada Nabi. Beliau bersabda : “Itu adalah keringat, bukan haidh. Apabila datang (darah) haidh, tinggalkan shalat dan apabila hilang darah haidh, mandilah dan shalatlah.” (HR. Syaikhani)
Dari ‘Ubadah bin Nusay, dari ‘Abdurrahman bin Ghunam, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda : “Apabila telah pergi (hilang) bagi wanita yang nifas tujuh, kemudian dia melihat suci, hendaknya dia mandi dan shalat.” (HR. Baihaqi)
6.4. Melahirkan tanpa darah
Hal ini didasarkan Abu Hanifah, golongan Malik dan Syafi’i yang berkata : “Wajib mandi bagi orang yang melahirkan sekalipun dia tidak melihat darah karena ihtiyah (hati-hati). Sebab wanita yang melahirkan tidak akan luput dari bekas darah.
6.5. Meninggal dunia
Para ulama sepakat bahwa diwajibkan bagi yang masih hidup melaksanakan fadhu kifayah, yaitu memandikan mayat orang muslim, yang tidak disebabkan melaksanakan sesuatu yang melarang mandi, seperti mati syahid di medan perang, bughat dan terbunuh karena dizhalimi. Hal ini didasarkan hadits perkataan Ibnu ‘Abbas : “Ketika seorang laki-laki berdiri bersama Nabi saw. di ‘Arafah, dia dihempaskan oleh untanya sehingga meninggal dunia, lalu beliau bersabda : ‘Mandikanlah olehmu sekalian dengan air dan kayu cendana dan kafanilah dia dengan dua kain (dua lapis)’.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan Mail)
6.6. Mandi Jum’at diwajibkan bagi orang muslim yang sudah dewasa, yaitu mandi sebelum ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.
“Apabila salah seorang diantara kamu sekalian datang (pergi) untuk shalat Jum’at, hendaknya dia mandi.” (HR. Jama’ah)
Waktu mandi dimulai dari terbit fajar sampai waktu berangkat shalat. Imam Malik berpendapat bahwa mandi Jum’at harus berdekatan dengan pemberangkatan. Hal ini didasarkan dalil atas pendapat ini dengan hadits Muslim, bahwasanya Rasulullah bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu hendak berangkat shalat Jum’at, hendaknya dia mandi lebih dahulu.” (HR. Bukhari)
Dari ‘Aisyah, isteri Nabi saw. : “Sesungguhnya Nabi apabila mandi karena janabah, beliau memulai membasuh kedua tangannya, (kemudian mencuci kemaluannya)”, (tambahan pada riwayat Muslim), “lalu beliau berwudhu sebagaimana wudhunya mau shalat, kemudian beliau memasukkan anak jarinya ke dalam air dan digosok-gosokkannya pangkal rambut kepala, kemudian dituangkannya di atas kepala tiga siuk air dengan kedua belah tangannya dan dituangkannya air ke seluruh tubuhnya.” (HR. Bukhari 1 : 68, 70; Nailul Authar 1 : 306)
Dari ‘Aisyah, ia berkata : “Adalah Rasulullah saw. apabila mandi janabat, beliau memulai dengan mencuci dua tangannya, kemudian menuangkan (air) dengan tangan kanannya atas tangan kirinya, kemudian mencuci kemaluannya, lalu berwudhu seperti wudhu untuk shalat, kemudian beliau mengambil air, lalu dimasukkan jari-jarinya di pangkal-pangkal rambutnya sehingga beliau menuang atas kepalanya tiga tuangan, kemudian menyiram seluruh badannya, kemudian mencuci kakinya.” (HR. Muslim : 143)
‘Aisyah r.a., mengatakan bahwa Nabi saw. apabila mandi janabah, beliau meulai mencuci kedua tangannya tiga kali, kemudian menyiramkan air dengan tangan kanannya pada tangan kirinya, lalu mencuci farjinya, kemudian berwudhu seperti wudhu untuk shalat, kemudian mengambil air dan memasukkan jari tangan ke dalam pangkal rambut, sehingga beliau melihat telah istibra (air sampai ke kulit), lalu menciduk air untuk kepalanya tiga kali, kemudian menyiramkannya ke seluruh badan, terakhir mencuci kedua kakinya. (HR. Syaikhani)
Pada suatu riwayat disebutkan : “…. kemudian beliau membersihkan rambut dengan tangannya, sehingga apabila beliau telah merasa rata, kemudian menyiramkan air tiga kali.”
Ibnu ‘Abbas r.a., meriwayatkan dari bibinya, Maimunah : “Saya telah menyimpan air (ghuslan) untuk Nabi saw. untuk mandi janabah, maka beliau menumpahkan air itu pada tangan kanan, lalu mencucinya dua kali atau tiga kali, kemudian menyiramkan ke fajrinya dengan tangan kiri, kemudian memukulkan tangannya ke bumi, lalu mencucinya, kemudian berkumur dan memasukkan air ke hidungnya, lalu mencuci mukanya dan kedua tangannya. Selanjutnya, beliau menyiramkan air ke kepalanya dan badannya, kemudian membiarkannya, lalu mencuci kedua kakinya, lalu saya mengambilkan sapu tangan, tapi beliau tidak mengambilnya dan beliau memercikkan air dari badannya. Saya menyebutkan hal itu kepada Ibrahim. Ibrahim berkata : ‘Mereka tidak berpendapat (berkomentar) apa-apa dengan mindil (sapu tangan). Akan tetapi, mereka tidak menyenangi kebiasaan itu (tetapi tidak apa-apa melakukannya)’.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi)
7. Beberapa larangan bagi yang tidak bersuci
Perempuan yang haidh atau nifas dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut :
7.1. Shalat dan Puasa
“Maka apabila datang haidh, hendaklah engkau tinggalkan shalat dan apabila lewat (qadar biasanya), hendaklah engaku mandi dan shalatlah.” (HR. Bukhari)
“Bukankah perempuan itu kalau haidh tidak (wajib) shalat dan tidak (wajib) puasa?” (HR. Bukhari)
Telah berkata Ummu Salamah : “Adalah perempuan-perempuan yang nifas pada zaman Rasulullah saw. tidak shalat empat puluh hari.” (Tirmidzi)
Ada beberapa banyak lagi hadits dan riwayat yang menunjukkan bahwa perempuan yang nifas tidak diwajibkan shalat empat puluh hari, kecuali berhenti darahnya sebelum itu.
Telah berkata ‘Aisyah : “… kami (yang haidh) diperintah oleh Rasulullah mengqadha puasa, tetapi tidak diperintah mengqadha shalat.: (HR. Muslim)
Diharamkan bagi wanita haidh berpuasa, baik puasa wajib maupun sunnah dan tidak sah puasa yang dilakukannya. Akan tetapi, ia berkewajiban mengqadha puasa yang wajib berdasarkan hadits ‘Aisyah r.a. :
“Ketika kami mengalami haidh, diperintah kepada kami mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat.” (HR. Muttfqa ‘alaih)
Diriwayatkan pula dalam Shahih Al-Bukhari – Muslim dan Ummu Athiyah r.a., bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda : “Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haidh, yakni kedua shalat ‘id (‘Idul Fitri dan ‘Idul Ad-ha), serta supaya mereka ikut menyaksikan kebaikan dan do’a orang-orang yang beriman. Akan tetapi, wanita haidh menjauhi tempat shalat.”
7.2. Thawaf
Diharamkan bagi wanita haidh melakukan thawaf di Ka’bah, baik yang wajib maupun sunnah dan tidak sah thawafnya. Hal ini didasarkan sabda Nabi saw. kepada ‘Aisyah :
“Lakukanlah apa yang dilakukan jama’ah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci.”
Adapun kewajiban lainnya seperti sa’i antara Shafa dan Marwah, wukuf di ‘Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah dan amalan haji serta umrah, selain thawaf tidak diharamkan. Atas dasar ini jika seorang wanita melakukan thawaf dalam keadaan suci, kemudian keluar haidh langsung setelah thawaf atau di tengah-tengah melakukan sa’i, tidak apa-apa hukumnya.
7.3. Thawaf Wada’
Jika seorang wanita telah mengerjakan seluruh manasik haji dan umrah, lalu datang haidh sebelum keluar untuk kembali ke negerinya dan haidh ini terus berlangsung sampai ia keluar, ia boleh berangkat tanpa thawaf Wada’. Dasarnya hadits Ibnu ‘Abbas r.a. : “Diperintahkan kepada jama’ah haji agar saat-saat terakhir bagi mereka berada di Baitullah (melakukan thawaf Wada’), hanya saja hal itu tidak dibebankan kepada wanita haidh.” (HR. Syaikhani)
Tidak disunnahkan bagi wanita haidh ketika hendak bertolak, mendatangi pintu Masjidil Haram dan berdo’a, karena hal ini tidak ada dasar ajaarannya dari Nabi saw. Adapun seluruh ibadah harus berdasarkan ajaran (sunnah) Nabi saw. adalah sebaliknya sebagaimana disebutkan dalam kisah Shafiyah r.a., ketika dalam keadaan haidh setelah thawaf Ifadhah, Nabi saw. bersabda kepadanya : “Kalau demikian, hendaklah ia berangkat.” (HR. Muttafaq‘alaih)
Dalam hadits ini Nabi tidak menyuruhnya mendatangi pintu Masjidil Haram. Andaikata hal itu disyari’atkan, tentu Nabi sudah menjelaskannya.
Adapun thawaf untuk haji dan umrah tetap wajib bagi wanita haidh dan dilakukan setelah suci.
7.4. Berdiam di Masjid
Diharamkan bagi wanita haidh berdiam di dalam masjid, bahkan diharamkan pula baginya berdiam di tempat shalat ‘Id. Hal ini didasarkan hadits Ummu Athiyah r.a., bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda : “Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haidh …. Akan tetapi, wanita haidh menjauhi tempat shalat.” (HR. Muttafaq‘alaih)
7.5. Jima’ (Senggama)
Diharamkan bagi suami melakukan jima’ dengan isterinya yang sedang haidh dan diharamkan bagi isteri memberi kesempatan kepada suaminya melakukan hal itu tersebut. Dalilnya firman Allah ta’ala :
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah ‘Haidh itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada waktu haidh dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci….” (Al-Baqarah : 222)


Sumber : Habib Hassan bin Ahmad Al-Mahdaly (Dakta 107.0 FM)

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum warakhmatullahi wabarakatuh. terima kasih, tulisan anda menambah ilmu agama saya.semoga saya dapat melaksanakannya seperti anda. saya tidak bisa berkomentar, karena dangkalnya ilmu saya. terima kasih.

    BalasHapus

Situs ini menerapkan “Dofollow Site Comment System”
Beri komentar sebanyak-banyaknya yang tentunya akan membawa manfaat pula bagi perkembangan blog/situs Anda. Namun komentar Anda harus dengan syarat :

1. Tidak mengandung Spam, SARA, Pornografi;
2. Komentar harus ada kaitannya dengan materi yang dibahas
dalam posting;
3. Tidak berisi link aktif di dalam badan komentar.

Selamat berkomentar dan semoga bermanfaat bagi perkembangan blog/situs Anda.

Terima kasih.